Foto: Google Yogyakarta, sekitar pertengahan tahun 90-an. Antara solek modernisasi dan aura kesederhanaan tiap jengkal kotanya masih terlihat begitu dinamis tumbuh bersama. Ada banyak potongan hidup yang akan erat tertanam dalam ingatan, bagi yang pernah mencumbu unsur-unsur warna kota dan desanya. Ada banyak kerinduan, semuanya terbungkus 'berhati nyaman'. *°* Sore itu seperti biasa, Naruto berjalan kaki seorang diri, dari Babarsari menuju 40an untuk pulang ke rumahnya. Saat-saat seperti itu adalah saat bagi Naruto untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Saat mencari jawaban dari kegundahan hati yang selama ini menyiksanya. "Ah, sudah saatnya," gumam Naruto. Dirinya sudah berada di titik 0 (nol) kilometer. Headset terpasang setengah melingkar di kepalanya. Ia hidupkan walkman yang memang selalu dibawanya. Angannya siap terbang bersama berbagai nuansa yang akan didengarnya. Setidaknya, angan tersebut terbukti mampu melumpuhkan rasa sakit yang dideritanya un...
Foto: Google Yogyakarta, sekitar pertengahan tahun 90-an. Antara solek modernisasi dan aura kesederhanaan tiap jengkal kotanya masih terlihat begitu dinamis tumbuh bersama. Ada banyak potongan hidup yang akan erat tertanam dalam ingatan, bagi yang pernah mencumbu unsur-unsur warna kota dan desanya. Ada banyak kerinduan, semuanya terbungkus 'berhati nyaman'. *°* Sore itu seperti biasa, Naruto berjalan kaki seorang diri, dari Babarsari menuju 40an untuk pulang ke rumahnya. Saat-saat seperti itu adalah saat bagi Naruto untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Saat mencari jawaban dari kegundahan hati yang selama ini menyiksanya. "Ah, sudah saatnya," gumam Naruto. Dirinya sudah berada di titik 0 (nol) kilometer. Headset terpasang setengah melingkar di kepalanya. Ia hidupkan walkman yang memang selalu dibawanya. Angannya siap terbang bersama berbagai nuansa yang akan didengarnya. Setidaknya, angan tersebut terbukti mampu melumpuhkan rasa sakit yang dideritanya un...